renungkan??

Mengapa Umat Islam Tertinggal dalam Sains dan Teknologi?

Pesatnya perkembangan Sains dan Teknologi semakin terasa dari hari ke hari. Banyak hasil dari perkembangan Sains dan Teknologi yang tadinya diluar angan-angan manusia sudah menjadi keperluan harian manusia. Contohnya : penyampaian informasi yang dahulu memerlukan waktu hingga berbulan-bulan, kini dengan adanya telpon, hand phone, faksimili, internet, dapat sampai ke tujuan hanya dalam beberapa detik saja, bahkan pada masa yang (hampir) bersamaan. Melalui TV, satelit dan lain-lain alat lomunikasi canggih, kejadian di satu tempat di permukaan bumi atau di angkasa dekat permukaan bumi dapat diketahui oleh umat manusia di seluruh dunia dalam masa yang bersamaan. Selain dalam bidang komunikasi, perkembangan dalam bidang lainpun seperti material, alat-alat transportasi, alat-alat rumah tangga, bioteknologi, kedokteran dan lain lain begitu maju dengan pesat.

Kita mengakui bahwa sains dan teknologi memang telah mengambil peranan penting dalam pembangunan peradaban material atau lahiriah manusia. Penemuan-penemuan sains dan teknologi telah memberikan bermacam-macam kemudahan pada manusia, mulai dari air yang cukup dengan memutar keran telah menggantikan sumur, yang kadang perlu dicari jauh dari rumah. Perjalanan yang dulu perlu ditempuh berbulan-bulan, sekarang dapat ditempuh hanya beberapa jam saja dengan pesawat terbang, kereta api cepat, hinggalah penemuan-penemuan lain yang sangat membedakan, memudahkan dan menyenangkan cara hidup manusia zaman sekarang dibanding zaman dulu.

Tetapi sayang sekali sampai saat ini kebanyakan umat Islam masih sebagai pengguna produk sains, teknologi dan industri yang ditemukan atau dibuat oleh saintis, teknolog dan industrialis bukan Islam. Barang-barang produksi umat Islam masih berbasiskan sumber daya alam yang mempunyai nilai tambah (added value) yang rendah, belum berbasis sains dan teknologi yang mempunyai nilai tambah yang tinggi. Ilmuwan-ilmuwan dan teknolog Islam belum menjadi satu kelompok yang maju, berilmu pengetahuan dan berteknologi tinggi sehingga menjadi tempat rujuk dan bertanya ilmuwan-ilmuwan, saintis dan teknolog dunia lainnya. Justeru yang terjadi adalah banyak orang Islam yang belajar, mengkaji dan meneliti berbagai bidang sains dan teknologi dengan berguru kepada ilmuwan-ilmuwan barat di Eropa, Amerika, Australia dan lain-lain. Bahkan yang menyedihkan, di sana ilmuwan-ilmuwan Islam tidak hanya belajar dalam bidang sains dan teknologi tetapi juga dalam bidang kajian Islam. Banyak sarjana dan PhD dalam kajian Islam lahir dari hasil berguru kepada orang-orang bukan Islam di Oxford, Sorbonne, Chicago, Canberra, Canada dan lain-lain.

Walaupun ribuan bahkan mungkin jutaan sarjana, magister, dan doktor Islam sudah lulus dari berbagai universitas di dunia dalam berbagai bidang ilmu, sains dan teknologi, mengapa para ilmuwan dan teknolog Islam itu belum dibantu Allah dalam mengembangkan dan memanfaatkan sains dan teknologi? Karya-karya ilmiah para ilmuwan, saintis dan teknolog Islam masih terlalu sedikit dan terbelakang. Penguasaan teknologi dalam masyarakat Islam masih rendah. Produk-produk industri keluaran umat Islam masih terlalu sedikit dan berdaya saing rendah, sehingga masyarakat Islam kurang dapat memberi manfaat kepada masyarakat dunia. Mengapa hal ini terjadi ?

Banyak ilmuwan, pakar sains dan teknologi Islam mencoba untuk mencari akar permasalahan ini dan kemudian mencoba untuk menyelesaikannya. Misalnya Prof. Dr. Abdus Salam yang pernah mendapat hadiah Nobel bidang Fisika pada tahun 1978, Prof. Dr Ahmad Baiquini mantan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Nasional Indonesia (1973-1984) dan Prof. Dr.-Ing. BJ Habibie yang pernah menjadi Menteri Riset dan Teknologi Indonesia selama 20 tahun (1978-1997). Tetapi nampaknya mereka masih belum menyentuh akar permasalahan yang sebenar, hanya menyentuh masalah-masalah di permukaan yang lebih bersifat material dan lahiriah.

Menurut Prof. Dr. Abdus Salam, umat Islam tertinggal dalam bidang sains dan teknologi karena beberapa sebab diantaranya :

1. Tidak mempunyai komitmen terhadap sains, baik sains terapan maupun sains murni
2. Tidak memiliki hasrat yang kuat untuk mengusahakan tercapainya kemandirian sains dan teknologi (self reliance)
3. Tidak membangunkan kerangka institutional dan legal yang cukup untuk mendukung perkembangan sains
4. Menerapkan cara yang tidak tepat dalam menjalankan manajemen kegiatan di bidang sains dan teknologi

Sedangkan Prof Baiquni dalam bukunya Al Qur’an Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menguraikan bahwa diantara sebab tertinggalnya umat Islam dalam bidang sains dan teknologi adalah :

1. Adanya dikotomi di kalangan ulama Islam yang mungkin tidak begitu memahami atau salah faham terhadap buah fikiran Imam Al Ghazali, sehingga mereka memisahkan ilmu-ilmu agama dari sains dan teknologi. Selain itu berbeda dengan ulama-ulama dahulu yang selain pakar bidang agama, juga pakar bidang sains, maka ulama-ulama selepas itu tidak begitu menguasai sains sehingga mencoba menjauhkan pengikut-pengikutnya dari pengaruh ahli ilmu kauniah. Hal ini mereka buat agar terbebas dari pertanyaan-pertanyaan krtitis murid-murid mereka sedangkan mereka tidak dapat menjawabnya.

1. Embargo sains dan teknologi yang dibuat oleh negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang, lebih-lebih lagi negara umat Islam.

1. Jumlah pakar sains di negara-negara Islam jauh lebih kecil dari pada yang ada di negara-negara bukan Islam seperti dalam tabel di bawah ini (UNESCO 1987)

1. Institusi pendidikan sains dan teknologi di negara-negara Islam jauh lebih kecil dari pada yang ada di negara-negara bukan Islam. Misalnya, Indonesia pada tahun 1987 hanya memiliki 10 fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dengan jumlah guru besar (Profesor) fisika hanya 10 orang dan PhD fisika hanya sekitar 30 orang. Kalau kita bandingkan dengan sebuah institusi di Inggris misalnya Imperial College di London yang memiliki Profesor fisika 12 orang dan PhD fisika 100 orang, maka keadaan di negara-negara Islam sangat tertinggal dan menyedihkan.
Menurut kami, pandangan kedua pakar sains Islam ini tidaklah begitu tepat. Sejarah telah menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW dengan menggunakan ilmu dan kaedah wahyu dari Allah telah mendidik para sahabat yang kebanyakannya buta huruf, tidak berperadaban, tanpa ada institusi pendididikan formal, tanpa ada institusi-institusi Research and Development dalam berbagai bidang ilmu, tetapi telah sukses mendidik sahabat menjadi peribadi unggul. Rasulullah mulakan dengan memberi Tuhan kepada para sahabat sehingga sahabat menjadi bertaqwa barulah diiringi dengan ilmu-ilmu dan tugas-tugas lain yang sangat menyokkong mereka untuk mengembangkan kepakaran mereka dalam bidang mereka masing-masing.

Hasilnya dalam waktu 30 tahun saja umat Islam menguasai ¾ dunia. Romawi dan Persia jatuh ke tangan para sahabat di zaman Pemerintahan Saidina Umar bin Khattab. Para Saintis kedua superpower tersebut masuk ke dalam agama Islam sengan suka rela dan hati terbuka dan menjadi saintis Islam. Sejak itu berkembanglah budaya Ilmiah Islam dalam masyarakat Islam. Hal ini terulang kembali di zaman Fatimiyah, Abbasiyah dan Uthmaniah khususnya di zaman Sultan Muhammad Al Fateh yang menggunakan kaedah yang sama dengan yang digunakan oleh Rasulullah SAW dan berhasil memajukan sains dan teknologi dalam masyarakat Islam.

Begitu juga dengan Profesor BJ Habibie, beliau menyorot aspek-sapek sampingan dan lahiriah saja dalam mengejar ketertinggalan umat Islam dalam bidang sains dan teknologi. Melalui 4 tahapan alih teknologinya beliau mencoba mengejar ketertinggalan Indonesia dalam bidang sains dan teknologi. Keempat tahapan itu adalah :

1. Pembelian Lisensi untuk memprodukdi barang-barang dagangan yang ada di pasar dunia dengan design dan teknologi yang telah disiapkan oleh pihak penjual lisensi yang berada di dalam dan luar negara

2. Integrasi teknologi baik yang diperoleh dari hasil pembelian lisensi maupun pengembangan sendiri yang memungkinkan modifikasi dan adaptasi untuk mendesian produk baru.

3. Penciptaan teknologi baru dengan mempergunakan kemampuan teknologi yang telah ada dalam bentuk himpunan lisensi dan hasil research adn Development dan terbina melalui pengalaman integrasi teknologi

4. Pengembangan sains secara besar-besaran untuk mempertahankan keunggulan teknologi yang telah dikuasain sehingga produk-produk yang dihasilkan tetap unggul dan mampu bersaing di pasar dunia

Milyaran US$ sudah dibelanjakan untuk menerapkan gagasan dan buah fikiran ini dalam negara Indonesia dan terbangunlah berbagai institusi riset, kajian dasar dan terapan, industri kapal terbang, industri kereta api, kapal laut, persenjataan, telekomunikasi, otomotif dan lain-lain. Kita semua melihat dan mengetahui hasilnya sekarang ini, selepas beliau melaksanakan gagasannya itu sepanjang 30 tahun.

Untuk memahami akar permasalahan ketertinggalan umat Islam dalam bidang sains dan teknologi kita sangat memerlukan panduan dan petunjuk dari Allah yang Maha Mengetahui. Sebenarnya ada beberapa sebab dasar yang menyebabkan umat Islam khususnya ilmuwan, teknolog dan industrialis Islam tertinggal dari pada orang bukan Islam diantaranya

1. Motivasi atau pendorong yang salah
2. Sistem Pendidikan dan Pengajaran yang salah
3. Kaedah atau teknik yang digunakan tidak tepat
4. Ilmu yang dipelajari tidak dikaitkan dengan Allah

1. Motivasi atau Pendorong yang salah

Untuk melihat motivasi atau pendorong umat Islam belajar ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, mari kita uraikan secara terperinci peringkat orang yang beraktifitas dalam bidang ilmu pengetahuan, sains dan teknologi. Dengan mengenal kategori atau golongan umat Islam yang menuntut dan mengkaji ilmu pengetahuan, sains dan teknologi itu dengan sendirirnya akan terjawab, mengapa umat masih terbelakang.

Orang Islam yang menuntut dan mengkaji ilmu pengetahuan, sains dan teknologi ada beberapa golongan, di antaranya adalah sebagai berikut :

1. Orang yang menuntut, mencari, mengkaji dan mengembangkan ilmu karena ilmu semata-mata, karena sangat suka dengan ilmu, mabuk dengan ilmu, asyik dengan ilmu. Inilah golongan orang yang mencari ilmu karena ilmu semata-mata atau golongan mabuk ilmu.

2. Orang yang mencari ilmu karena inginkan kekayaan dan harta dunia. Dengan ilmu yang banyak dan tinggi dia dapat bekerja di tempat yang memberi gaji yang besar. Dengan ilmu itu seseorang dapat menjabat pangkat yang tinggi, di situ terdapat gaji besar atau dengan ilmu itu seseorang akan pakar berbisnis. Dengan berbisnis boleh mendapat kekayaan dan harta. Inilah golongan menggunakan ilmu untuk mencari makan, kekayaan dan kesenangan dunia.

3. Ada orang mencari, mengkaji dan mengembangkan ilmu karena ingin menjadi pemimpin. Karena seseorang yang hendak menjadi pemimpin mesti ada ilmu, kalau tidak sudah tentu tidak boleh memimpin orang, maka mereka burulah ilmu. Inilah golongan yang menggunakan ilmu untuk menjadi pemimpin.

4. Ada juga golongan yang bersungguh-sungguh mencari, mengkaji dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi karena ingin mendapat gelar, nama dan glamour, agar orang menganggap dia golongan intelek, mendapat penghargaan di bidangnya dan moga-moga dia dihormati orang, moga-moga nama masyhur. Inilah golongan ahli ilmu yang ingin nama dan glamour.

5. Ada orang mencari, mengkaji dan mengembangkan ilmu karena hendak keluar daripada kebodohan dan kejahilan. Agar jangan orang memandang hina. Karena jahil itu adalah dipandang tidak baik. Maka mereka pun belajarlah ilmu pengetahuan hingga menjadi orang yang pandai. Inilah golongan ahli ilmu yang mengharap dengan ilmunya itu dia tidak terhina.

6. Ada orang mencari, mengkaji dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi karena ingin membangun dan maju demi untuk kedaulatan dan kemegahan bangsa dan negara agar jangan bangsanya mundur, terhina, dipandang rendah dan dilecehkan oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Inilah golongan ahli ilmu yang berfaham nasionalisma.

7. Ada orang mencari, mengkaji dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi karena perintah Allah Taala Tuhannya. Ia sadar bahwa betapa banyak ayat-ayat Qur’an dan hadist Rasulullah SAW yang menyuruh umat Islam untuk menutut ilmu dan menjanjikan derajat yang mulia bagi orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Mereka mencari, mengkaji dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tujuan agar dapat mengamalkan ilmu supaya boleh mengabdikan dan mendekatkan diri dengan Allah Taala. Moga-moga dengan itu mendapat keredhaan Allah Taala dan terselamat daripada kehinaan di dunia dan kehinaan di Akhirat. Golongan ini mereka menggunakan ilmu untuk membangunkan berbagai industri yang bermanfaat bagi manusia, membangun ekonomi, membangunkan peralatan ketenteraan untuk membela diri, membangunkan pertanian, membuat bangunan-bangunan, sekolah, gedung-gedung, jalan raya dan lain-lain dengan tujuan agar dapat melindungi iman, memperkuatkan syariat, membesarkan syiar Allah, mendaulatkan hukum-hukum Allah. Justeru itu di dalam membangun melalui ilmunya itu, mereka sangat menjaga syariat, terlalu menjaga halal dan haram, tidak lari daripada disiplin Islam hingga seluruh usaha dan kemajuan yang dibangunkan menjadi ibadah atau menjadi amal soleh, dianggap jihad fisabilillah, diberi pahala yang besar oleh Allah Taala yang Maha Pemurah. Inilah golongan ahli ilmu atau ilmuwan dan teknolog yang bertaqwa.

Kebanyakan umat Islam belajar sains dan teknologi karena sebab-sebab yang diuraikan dalam no.1 sampai 6, yaitu karena mabuk ilmu, mengejar harta, jabatan, nama, agar tidak bodoh serta karena bangsa dan negara. Tidak ada atau hampir tidak ada yang betul-betul karena Allah Tuhannya, yang inginkan redho, cinta dan takutkan Allah. Maka tidak heran Allah berlepas tangan dan tidak membantu mereka. Ilmuwan dan teknolog Islam tidak dibantu Allah. Mereka tidak diberi ilmu atau idea-idea oleh Allah dalam kajian atau analisa mereka. Mereka hanya guna akal mereka saja. Akhirnya mereka tertinggal jauh dibanding ilmuwan dan teknolog bukan Islam yang memang sudah meninggalkan jauh ilmuwan dan teknolog Islam. Kalaupun ada beberapa ilmuwan dan teknolog Islam yang cukup pakar, tetapi produk-produk yang mereka hasilkan tidak membawa berkat dan kemuliaan hidup kepada manusia bahkan dapat menjadi bencana kepada manusia baik secara langsung ataupun secara tidak langsung.

Kita umat Islam dalam menuntut dan mencari ilmu mesti menjadi golongan yang ketujuh, yaitu mencari ilmu karena Allah, untuk mencari redhoNya, membesarkanNya. Kalau bukan karena Allah Taala, kita termasuk ke dalam golongan orang yang rugi. Kalaupun mendapat untung di dunia, namun rugi di Akhirat karena tidak mendapat redho Allah. Waliyazubillah.

2. Sistem Pendidikan dan Pengajaran yang Salah

Sejarah telah menunjukkan betapa sistem pendidikan Islam yang dilaksanakan oleh umat Islam di zaman Rasulullah SAW dan salafus saleh telah berhasil melahirkan 1 kelompok ilmuwan dan teknolog yang bertaqwa dan profesional sehingga mereka sangat dibantu dan diberi ilmu oleh Allah. Karena bantuan Allah ini, maka Ilmuwan dan teknolog Islam di zaman salafus saleh itu telah menghasilkan dan mempublikasikan karya-karya yang unggul sehingga menjadi guru tempat belajar dan rujuk bagi ilmuwan-ilmuwan lain di dunia pada masa itu. Mereka menjadi peletak dasar-dasar ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang termasuk aljabar, matematika, astronomi, fisika, kimia, optik, biologi, geologi, kedokteran dan lain-lain.

Tetapi sistem pendidikan di negara-negara umat Islam sekarang telah gagal. Bukan hanya gagal menghasilkan ilmuwan dan teknolog yang unggul di bidangnya, tetapi juga telah gagal menghasilkan insan yang beriman, bertaqwa, kenal, cinta dan takutkan Allah.

Salah satu masalah besar dalam dunia pendidikan sekarang ini adalah telah terjadi salah faham makna mendidik manusia itu. Pendidikan yang ada di sekolah, pondok dan berbagai sekolah serta universitas sekarang ini sudah disempitkan artinya sekadar transfer ilmu dan kepakaran, baik ilmu-ilmu ekonomi, sosial, bahasa, kebudayaan, undang-undang, Ilmu Pengetahuan, teknologi, perhotelan, maupun ilmu-ilmu Islam seperti tauhid, fikih, tasawuf. Ataupun dengan kata lain hanya menumpukan pemberian ilmu dan pendidikan akal saja. Kalaupun ada pemberian ilmu agama, pendidikan moral atau budi pekerti tetapi tidak dikaitkan dengan cinta, takut dan rindukan Tuhan, sampai pelajar benar-benar menjadikan hidup matinya untuk Allah semata.

Sistem pendidikan yang ada sekarang ini sekalipun dilabelkan Islam hanya mampu mengubah dasar, tujuan serta teknik pentadbiran akal dan lahiriah saja, tetapi tidak dapat mengubah jiwa atau rohaniah manusia sehingga membuatkan mereka merasa diri mereka hamba yang perlu patuh kepada Allah. Tegasnya, pendidik dan pemimpin dunia yang ada sekarang tidak faham apa yang dimaksud dengan mendidik manusia.

Hal ini terjadi karena mereka tidak faham apa itu manusia. Mereka sangka manusia hanyalah fisik dan akal saja. Ada juga yang tahu bahwa selain fisik dan akal, manusia juga memiliki hati nurani atau roh serta nafsu tetapi tidak tahu betapa pentingnya roh ini dan tidak tahu bagaimana membangunkan hati nurani atau roh tersebut. Bahkan mereka sendiri tidak mampu mendidik dan membangunkan hati nurani atau roh mereka sendiri. Mereka hanya mampu menjayakan pembangunan akal dan materi saja, sedangkan rohaniah anak didiknya dibiarkan saja sehingga perangainya tidak jauh dengan hewan.

Akhirnya sistem pendidikan sekarang ini walaupun sudah menghasilkan banyak orang yang berilmu pengetahuan dan berteknologi yang tinggi, master, doktor dan profesor, tetapi sebenarnya ia telah gagal dan hanya berhasil menghasilkan manusia yang sombong, ego, kejam, pemarah, hasad dengki, gila kuasa, gila dunia, menggunakan kekuatan fisik, akal dan segala cara untuk mencapai tujuannya. Dunia sudah menjadi rimba yang dihuni oleh hewan hewan yang berupa manusia. Hasilnya semakin terbangun akal dan material, semakin terbangun peradaban materi yang canggih berupa produk-produk industri, mesin-mesin, bangunan-bangunan dan lain-lain, tetapi manusia semakin huru-hara dan dunia semakin kacau balau. Tiada kasih sayang, keamanan, kedamaian dan keharmonian. Jauh sekali dari pada keampunan Allah.

Mengapa ini terjadi?

Sebenarnya yang berhak mendidik manusia adalah Allah. Allah-lah yang mencipta manusia, yang mencipta dunia. Sudah tentu Allah Maha tahu masalah dunia, tahu manusia, tahu akal fikiran, nafsu dan rohaniah manusia. Jadi kaedah yang paling tepat untuk mendidik manusia tentu datang dari Allah. Kaedah itu Allah kirim melalui utusanNya, yaitu Rasulullah SAW. Tetapi manusia sekarang sudah mengambil kuasa Allah untuk mendidik. Mereka guna akal dan kaedah ciptaan mereka untuk mendidik manusia. Ini suatu kesalahan besar yang dibuat manusia. Secara sadar atau tidak, manusia sudah menuhankan dirinya sendiri. Manusia sudah mengambil hak Tuhan. Manusia sudah ingin menjadi Tuhan.

Maka datanglah kemurkaan Allah kepada mereka, maka Allah akan berlepas diri dan tidak membantu mereka dalam mendidik manusia. Firman Allah yang bermaksud : “Mereka lupakan Allah, maka Allah lupakan mereka.”(At Taubah: 67). Semakin banyak institusi pendidikan, sekolah dan universitas dibangunkan, semakin banyak orang-orang memasuki sistem pendidikan buatan manusia, semakin banyak kejahatan dan masalah dalam masyarakat. Itulah sumber utama masalahnya. Inilah rahasia yang tersembunyi, rahasia yang tersirat, yang ahli dan pakar pendidikan dunia tidak nampak, sebab mereka hanya melihat yang lahiriah saja dengan mata dan akal saja. Seolah Allah berkata, engkau hendak menjadi Tuhan, didiklah manusia dengan dengan akal dan caramu. Maka gagallah mereka. Masyarakat yang mereka didik hasilnya mungkin masyarakatnya maju secara material dan lahiriah tetapi tidak tenang, resah, gelisah, semakin kacau dan huru hara.

Sistem pendidikan di negara umat Islam yang ada sekarang melahirkan 2 jenis manusia yang ekstrim : sistem pendidikan tradisional melalui pondok pesantren yang melahirkan manusia yang hanya berfikir kepada fikih, halal haram dan kurang memperdulikan kemajuan pembangunan material dan yang lainnya adalah sistem pendidikan barat yang telah melahirkan manusia yang pandai membuat kemajuan dan pembangunan material tetapi memisahkan Islam, Allah dengan pembangunan. Aktifitas profesional keseharian mereka tidak dikaitkan dengan Allah.

Kesuksesan besar sistem pendidikan suatu negara ialah dbila apat melakukan pembangunan insaniah manusia sesuai dengan kehendak Tuhan sehingga mereka mengalami perubahan jiwa, fikiran dan fisik. Insaniahnya dibangunkan sehingga mempunyai ciri-ciri malaikat, akalnya dibangunkan dengan ilmu-ilmu yang canggih, bermanfaat, selamat dan menyelamatkan dan fisiknya dibangunkan sehingga menjadi sehat dan kuat untuk beribadah kepada Allah dan berkhidmat kepada sesama makhluk. Jadilah dia insan bertaqwa yang dibantu Allah sehingga Allah anugerahkan ilmu-ilmu yang canggih dan unggul seperti yang Allah janjikan dalam Al Qur’an. Inilah sistem pendidikan yang telah berhasil menjadikan umat islam di zaman salafus salih menjadi empayar, menguasai ¾ dunia, unggul dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

3. Kaedah Pendidikan yang Salah

Pendidikan umat Islam sudah diselenggarakan dengan kaedah dan tata cara yang tidak Islam, mengikut cara Barat dan Yahudi. Padahal barat memang hendak mematikan akal dan jiwa umat Islam sejak zaman penjajahan. Kaedah pendidikan begitu formal dan tersukat. Yang disebut pendidikan itu kebanyakannya terjadi di ruang kelas dan sesuai dengan sukatan. Kalau Sekolah Rendah 6 tahun, batas ilmunya adalah level 1, se

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s